Tapi kalau nafsunya tidak diredakan, aku kasihan juga. Tak lagi terpecah-pecah. Bokepindo Ada apa ?”
“Ah…gak ada apa-apa,” sahut Prima sambil menunduk. Setiap aspek kuperiksa, tergolong laci-laci meja tulis serta lemari pakaiannya. Hanya sesekali aku memeriksa persoalan keuangannya. Yang jelas, beberapa detik kemudian ia berusaha “membangunkanku”.“Bun…Bunda….” panggilnya setengah berbisik. Tapi aku berusaha untuk menindas perasaan kesepianku dengan mencari kegiatan di rumah. Yang besar telah diterima di sebuah perguruan tinggi populer tapi belum mulai kuliah, sementara yang kecil baru naik kelas 3 SMA. Jadi ketika aku menikah dengan Kang Eman, aku bersikap seolah tidak punya apa-apa tidak hanya dari perhiasan yang kupakai. “Enak nenen bunda ?” godaku ketika Prima giat-giatnya menyedot-nyedot pentil tetekku. Yadi mempraktekkan manajemen modern, segala sesuatu diserahkan terhadap the right man on the right place, sementara Yadi hanya mengawasi saja dari




















