Namun kata-kata “bule” itu menambah emosi yang memang sudah terpancing sebelumnya. Bokepindo “Maaf, Ray.”
“Hanya maaf?” Gertakku sambil mengguncang kerah bajunya. Seharusnya aku sudah bisa menduga ketidak-harmonisan hubungan mereka ketika ayah Chie meninggal dunia. Matanya menatapku saat aku keluar dari kamar. aku mau keluar..”
“Di dalam, Ray..”
“Jangan!”
Chie mempererat rangkulan kaki-kakinya di pinggulku, mengangkat pinggulnya dan menekannya kuat-kuat, batang kemaluanku sekejap nyeri merasakan tekanan itu, dan tanpa bisa kutahan lagi, kepalaku terangkat dan spermaku tersembur keluar. Kuangkat telapak tangan di mataku, menariknya ke depan sehingga pipi gadis itu menyentuh pipiku. Karena ia adalah temanku, sahabatku, orang yang kukasihi.Jay? Sayang. “Bule? Itulah Chie. “Ray tahu.”
Chie menangis dalam pelukanku, membuatku sejenak mengingat ayahku sendiri yang selalu berkutat dalam pertempurannya dengan idealisme yang kumiliki.




















