Ternyata setengah kepalaku, dari ujung rambut sampai bawah hidung berada dalam rok Rini, kali ini “bau” juga sih, namun aku tak keberatan. Bokep Tangan Rini memukul-mukul kardus, tempat kepalanya bersandar, rasanya susah kalau berkomunikasi dengan posisi begini. “Kamu gak papa?” tanyaku lagi. Rini menangis kencang, tanganku yang tadi membelai-belai kepalanya kini menekannya sekencang-kencangnya.……Aku menceritakan masalah wisudaku di hari Sabtu, Rini menyarankan agar aku tidak lama-lama di sana, karena semua alumni sekarang sudah tahu kalau aku ini calon superstar, memang sih aku rugi tidak bisa berfoto-foto lama-lama, Rini juga menyarankan aku untuk menyewa studio RCTI yang nantinya aku boleh mengundang teman-temanku untuk foto kelulusan memakai toga, sekalian foto perpisahan juga sih…. “Hahahaha,” balasnya, “Aku ini sudah banyak pengalaman lho, hahahaha.” Bullshit, pikirku, sekarang aku mengerti kalau dia masih kecewa.




















