Dia memegang tanganku. Bokep Suara air hujan menderu keras sekali di atas atap. Tiba-tiba dia membungkuk.Gilaaaa. Semakin cepat. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.————
Aku melirik jamku. Perjalanan cinta kami bisa dibilang cukup mulus. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di bawah sweater, mencari “adikku” yang mulai tegang lagi. Mataku juga.Aku melanjutkan kenakalanku. Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Tidak nyaman memang. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Kepalaku berdentum-dentum. Sudah sampai Sedayu. Jantungku berdebar sangat keras.“Buka,” bisikku lirih. Atau pura-pura? Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.Dia memandang ke bawah tubuhku.“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Dan dia mendesis.“jangan keras-keras,” bisiknya sangat lirih.




















