“Ada, nanti kita cari,” jawabku sambil menyusuri trotoar. Bokepindo Aku berpikir, kalau saja dia tidak memerlukan pertolonganku, mungkin dia tidak akan mengajak berkenalan. Della menghindari ciumanku, tapi aku tidak menyerah. Kacamata tipis, mungkin minus satu atau paling banter minus dua bertengger di hidungnya yang bagus. Ketika mata kami saling bertemu, aku memberi isyarat dengan menganggukkan kepalaku. Setelah pesawat berhenti baru aku sadar sepenuhnya. Tubuh kami menggelinjang dengan hebat, kami berteriak dan tidak perduli jika ada orang lain yang mendengarnya.“Akhh.. “Di Jakarta tinggal di mana?” tanyaku lagi. Setengah jam kemudian kuketuk pintu kamarnya. Aku sebenarnya mau massage, tapi nggak enak sama Della.




















