Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Ke mana ia? Bokepindo Kesempatan tidak akan datang dua kali. Tidak terlalu ayu. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Wien datang. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Bau tubuhnya tercium. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Aku duduk di tepi dipan. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih.




















