Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Membuang napas. Bokepindo Yes.., akhirnya. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku tersetrum. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Pijitan turun ke perut. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Dingin. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya.




















