Gak imbang sama pantatnya!” kata si Botak. Nampaknya ia sudah dibakar oleh hawa nafsu akan kecantikan Dian, anak saya yang tertua. Bokepindo Cambukan demi cambukan menghajar pantat Dian, meninggalkan garis-garis merah. Nampaknya semuanay ini sudah mereka rencanakan.“Akhirnya kita dapet amoy sombong ini! Itu sumber penghasilan saya satu2nya.”Beberapa saat setalah mengucapkan kata2 itu, saya hening. Saya juga mulai menangis, melihat anak gadis yang saya besarkan dengan susah payah dan saya jaga baik2, sekarang sedang dalam keadaan telanjang bulat dan terikat dan disakiti oleh preman2 bejat. Kami diwajibkan membayar sejumlah uang sewa setiap bulannya. Dian tidak henti2nya menangis karena rasa sakit yang luar biasa tersebut, serta meratapi nasibnya yang malang.Si Botak berpuluh2 kali mencambuki pantat, punggung, dan paha Dian dengan cambuk kulitnya, sedangkan si Kumis dengan rotan.




















