Ia sama sekali tak menghiraukan doronganku dan bahkan semakin mempererat pelukannya. Sekali lagi aku ingin berteriak tetapi suaraku tersendat di tenggorokan. Bokepindo Kubiarkan ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana. “Ayo berteriaklah agar ibumu malu dan seluruh keluargamu tercoreng!” tambahnya dengan suara serak.Sekali lagi aku terperangah. Diriku seperti terbang di awang-awang dan meski tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sama sekali tak ada niat untuk melawan.Begitu juga ketika Pak Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan menggerayangi seluruh badanku, aku pasrah saja. Belum sempat aku protes, Pak Toyo sudah mencium bibirku, dengan lekatnya.Barang dagangan terjatuh dari tanganku ketika aku berusaha mendorong tubuh Pak Toyo agar melepaskan tubuhku yang dipeluknya erat sekali.




















