“Mas, gede banget, occhh..”, Eksanti berteriak pelan.Tangannya turun menangkap batang kejantananku. Tapi sampai kapan? Bokepindo Eksanti tertawa sambil mencubit batang kejantananku. Aku tahu dia marah, tapi apa sebabnya..? “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. “Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..”, ujarnya sambil perlahan mengungkapkan sayu ke arahku. Aku lalu berbisik ke telinganya, jika aku ingin memeluknya dalam keadaan seperti ini mimpiku. “Maafkan aku, Santi.. Entah mengapa, ketika membocorkan mata Eksanti yang sayu itu, pikiranku jadi masa-masa indah yang pernah kami alami dulu. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Eksanti menelannya.




















