Tidak perlu diantar. Video bokep “Ini..?” kataku. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Aku tidak berani menatap wajahnya. “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Bayar arisan. Shit! Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Dadaku mulai berdegup lagi. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Ke bawah lagi: Turun. Aku tersetrum. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Mendadak jari tanganku dingin semua.




















