“Kamu jangan macam-macam, Tok!”, ancamnya padaku yang lagi menikmati rokok.“Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yang pertama”, sambungnya. “Sudah ngopi, Tok?”, tanyanya. Bokepindo Selesai mengemasi semua berkas dan catatan, kucoba berdiri dan memutar-mutar kepala untuk melemaskan otot leher dan punggung. “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi. Mungkin karena malu Iswani segera melepaskan cubitannya. “Itu karena pikiranmu belum dewasa. Setelah melahap 3 potong roti, aku bertanya padanya, “Dari mana saja Mbak kok dapat roti enak?” “Tadi aku silaturahmi ke tempat saudara-saudara dan pulangnya dibawain ini”, jawabnya.




















